Mini Opera: Rama, Sinta, dan Rahwana – Kesetiaan itu Bernama Rahwana

Published by

on

ditulis oleh Nur Vita Dewan Tari, Arina Varadilla, Aqshal Iham Ramadhan, Ahmad Sabiqun, Rayhan Rafie, Raihan Nur Rafi, Nurofi Akbar Februansyah

Surabaya, 25 November 2023Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan sebuah program kerja berkelanjutan yang memiliki 17 tujuan global dengan 169 target yang telah ditargetkan berdasarkan tenggat waktu  yang sudah ditentukan oleh PBB, sebagai bentuk membangun perdamaian dunia, pembangunan dunia, kemakmuran manusia, dan planet bumi dimulai dari saat ini hingga masa depan. SDGs ini dirumuskan bersama-sama oleh negara-negara pada resolusi PBB yang bertepatan tanggal 21 Oktober 2015 untuk ambisi pembangunan bersama hingga tahun 2030 (United Nations, 2023). Berdasarkan tema yang ada, SDGs yang dikaji pada kegiatan ini adalah SDGs 11 terkait kota dan komunitas berkelanjutan dengan target 11.4 yaitu memperkuat upaya untuk melindungi dan menjaga warisan budaya dan alam dunia. Pelaksana menyelenggarakan mini opera pewayangan ini karena melihat urgensi pelestarian budaya terutama wayang yang masih sangat minim sehingga pelaksana memiliki tekad untuk meningkatkan kesadaran akan budaya-budaya di Indonesia salah satunya adalah wayang yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia (Kemendikbud, 2023). Kegiatan mini opera Rama, Sinta, dan Rahwana “Kesetiaan itu Bernama Rahwana” dilaksanakan pada Sabtu, 25 November 2023 di Balai Rw 08, Wonorejo Selatan, Rungkut, Surabaya.

After Movie: Mini Opera: Rama, Sinta, dan Rahwana

Dengan hal diatas, dalam menunjang berlangsungnya kegiatan ini pelaksana mendapatkan beberapa mitra yang telah berperan membantu menyukseskan kegiatan ini yang sesuai dengan bidangnya masing-masing yaitu: (1) mitra pertama adalah Bapak/Ibu perangkat Rw 08 Wonorejo Selatan, Rungkut, Surabaya. Beberapa hal yang difasilitasi adalah tempat Balai RW yang merupakan lokasi kegiatan, sound system, meja, karpet, dan bantuan teknis serta penyebaran informasi oleh Bapak/Ibu perangkat kepada masyarakat setempat; dan (2) kemitraan berbayar yang menunjang kegiatan ini adalah seorang dalang muda yang berpengalaman yang bernama Ki Ramdhani dari Jombang, sehingga memiliki tugas dalam memandu jalannya kegiatan pagelaran mini opera ini. Kegiatan mini opera ini tidak mendapatkan dukungan yang berupa dana uang tunai, melainkan kami mendapatkan bantuan dari pihak sponsor yakni Vella Jesslyn Make up dari Sidoarjo yang memberikan dukungannya dalam bentuk kostum pemain wayang orang dan dalang. Mulai dari kostum untuk aksesoris kepala hingga pakaian.  Peserta yang menghadiri kegiatan ini merupakan warga setempat dari RW 08 Wonorejo Selatan, Rungkut, Surabaya.

Total keseluruhan peserta dalam kegiatan ini berjumlah 43 orang. Mini opera ini dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat baik laki-laki maupun perempuan dari anak-anak, remaja, hingga dewasa dan terdapat juga peserta rombongan dari Dalang Jombang. Reaksi yang diberikan oleh para peserta ternyata nampak sangat terhibur dengan rangkaian kegiatan ini. Master of Ceremony selalu melakukan interaksi dengan para peserta dan dihimbau untuk memberikan kesan pesan terhadap penampilan mini opera dalam kegiatan ini. Tanggapan para warga sekaligus peserta mengatakan bahwasannya “kegiatan ini sangat jarang dilakukan dan dilestarikan oleh generasi muda.” Masyarakat setempat mengharapkan bahwa pertunjukan mini opera ini dapat dilakukan secara terus menerus sebagai bentuk implementasi generasi muda khususnya bagi mahasiswa agar dapat melestarikan warisan budaya UNESCO untuk dilindungi sehingga adanya preventif untuk terjadinya kepunahan warisan budaya dan menjadikan pagelaran wayang tidak asing lagi di mata masyarakat. Maka dari itu, pentingnya menumbuhkan kesadaran dalam melindungi warisan budaya yang dapat dimulai dari mendorong perubahan dari bawah yaitu menargetkan masyarakat sehingga akan lebih mudah untuk disebarluaskan hingga dunia internasional.

Saran Kebijakan

Terdapat saran dari kelompok kami berdasarkan evaluasi kegiatan Mini Opera yang telah dilaksanakan kepada pemerintah yakni: (1) untuk kegiatan pentas seni sebaiknya dilakukan tidak hanya terpusat di lokasi tertentu namun bisa dilakukan tour di beberapa wilayah agar masyarakat tidak terlalu jauh ketika ingin melihat acara yang serupa; (2) pemerintah dapat lebih memfasilitasi baik para seniman-seniman muda untuk terus berkarya sesuai bidang seni masing-masing tidak hanya terbatas pada seniman yang telah dikenal di kalangan masyarakat; (3) pemerintah diharapkan mempermudah masyarakat untuk melakukan peminjaman alat, skrip dan kostum agar dapat lebih mengakomodasi para seniman-seniman muda agar dapat terus berkembang dan menghibur masyarakat, para penikmat seni, dan bahkan wisatawan asing; (4) pemerintah memberi dukungan terhadap masyarakat yang memiliki bakat di seni sehingga disarankan untuk memberikan wadah khusus untuk melatih para seniman muda agar sesuai dengan kaidah-kaidah seni yang ada, karena selama ini banyak seniman muda yang berlatih seni hanya sekedar melihat dari sosial media tanpa tahu aspek filosofis dari seni yang mereka pelajari; (5) pemerintah setempat dapat melakukan pengawasan dengan cara menyaring minat bakat masyarakatnya melalui bidang seni, yang kemudian dapat dilatih dan diberikan kebebasan untuk melestarikan budaya seni khususnya dalam wayang, karena semakin berkembangnya arus globalisasi maka akan semakin luntur keragaman budaya di Indonesia jika tidak ada penyesuain zaman dengan melestarikannya; dan (6) selain dukungan baiknya pemerintah juga turut andil dalam penyelenggaran wayang terutama pada hari-hari bersejarah di Indonesia, saran lainnya bisa dikemas dalam pesta rakyat di hari penting masing-masing wilayah agar menjadi pusat perhatian masyarakat. Dengan demikian, saran tersebut dapat dijadikan referensi bagi pemerintah agar lebih memperhatikan seni budaya terutama dalam pelestarian wayang yang mulai terkikis dari kehidupan generasi muda.

Tags: HandaruanxLABIRIN, Social Projects, SGDs

Leave a comment