Ditulis oleh Qhaila Oktavia Maryanto, Najwa Arkavista, Agustina Intan Anggraeni, Muhammad Rafli Zulfikar, Muhammad Athallah Fathendra
Surabaya, 28 November 2025 – Pembahasan mengenai makanan sehat dan bergizi tidak dapat dilepaskan dari konteks pendidikan anak usia sekolah, khususnya di lingkungan perkotaan yang dihadapkan pada beragam pilihan makanan instan dan minim gizi. Pada fase pertumbuhan, anak membutuhkan asupan nutrisi yang tidak hanya mencukupi kebutuhan energi, tetapi juga mendukung perkembangan kognitif, daya tahan tubuh, dan konsentrasi belajar. Namun, pemahaman mengenai gizi seringkali masih dipahami secara sederhana, sebatas kenyang atau tidak, tanpa melihat kandungan dan manfaat jangka panjang dari makanan yang dikonsumsi. Kondisi ini menunjukkan bahwa edukasi gizi tidak cukup hanya dengan mengandalkan penyediaan makanan, tetapi perlu disertai pemahaman yang menyeluruh (World Food Programme, 2021). Sekolah sebagai ruang belajar sehari-hari memiliki peran strategis untuk menjembatani kebutuhan tersebut melalui pendekatan edukatif yang sesuai dengan usia anak.
Berangkat dari keutuhan tersebut, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan edukasi gizi di SDN Medokan Ayu II Surabaya pada 28 November 2025. Kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai bentuk sosialisasi program, tetapi juga sebagai upaya memperluas cara pandang siswa terhadap konsep makanan sehat dan bergizi dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan yang digunakan dirancang agar siswa tidak sekadar menerima informasi, melainkan mampu mengaitkan materi dengan pengalaman makan mereka di rumah maupun di sekolah. Dengan demikian, edukasi gizi diposisikan sebagai proses pembelajaran, bukan sekadar penyampaian instruksi. Hal ini menjadi penting agar siswa dapat membangun kesadaran secara perlahan, tanpa merasa digurui atau disalahkan atas kebiasaan yang telah terbentuk sebelumnya.
Materi edukasi disampaikan oleh Muslimaturrahma, S.Gz., seorang ahli gizi, yang menjelaskan jenis-jenis zat gizi seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral beserta fungsi masing-masing bagi tubuh anak. Penjelasan mengenai ciri-ciri makanan sehat dan layak konsumsi disampaikan melalui contoh-contoh yang dekat dengan keseharian siswa,
sehingga materi terasa relevan dan mudah dipahami. Untuk memperkuat pemahaman, kegiatan dilanjutkan dengan kuis dan permainan edukatif yang mendorong partisipasi aktif siswa-siswi. Metode ini tidak hanya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, tetapi juga membantu anak-anak mengingat kembali informasi yang telah disampaikan sebelumnya. Interaksi dua arah yang terbangun menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai gizi dapat berlangsung secara efektif ketika disampaikan dengan cara yang komunikatif dan kontekstual.
Secara lebih luas, kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan: Zero Hunger, khususnya Target 2.1 yang menekankan pentingnya akses terhadap makanan yang aman dan bergizi bagi semua kelompok, termasuk anak-anak. Edukasi gizi di lingkungan sekolah menjadi langkah awal yang krusial dalam mendukung tujuan tersebut, karena pemenuhan gizi tidak hanya berbicara tentang ketersediaan pangan, tetapi juga tentang pemahaman dan kebiasaan konsumsi (Food and Agriculture Organization, 2024). Melalui kegiatan ini, terlihat bahwa sekolah memiliki potensi besar sebagai ruang pembentukan kesadaran gizi sejak dini. Kedepannya, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan dan kolaboratif, sehingga pendidikan gizi tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, melainkan menjadi bagian dari budaya belajar yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan anak.
Berdasarkan kegiatan sosialisasi tersebut, diperlukan langkah kebijakan yang lebih sistemik dan berkelanjutan untuk memastikan bahwa kesadaran gizi di SDN Medokan Ayu II Surabaya tidak berhenti sebagai agenda satu kali pertemuan semata. Pihak sekolah disarankan untuk mengadopsi pendekatan multikomponen sebagaimana direkomendasikan oleh FAO, melalui formalisasi kurikulum gizi dalam kegiatan ekstrakurikuler serta penetapan regulasi “Kantin Sehat” yang mengawasi kandungan gula, garam, dan lemak pada jajanan siswa. Selain itu, sejalan dengan arahan Kementerian Kesehatan, sekolah perlu memperkuat kolaborasi antara guru dan orang tua melalui workshop literasi gizi secara berkala.
Referensi
Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2024). A multi-component approach to school nutrition. Retrieved from https://www.fao.org/interactive/school-nutrition/en/
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023, January 26). Tidak hanya orang tua, guru juga perlu paham gizi seimbang. Diakses dari https://kemkes.go.id/id/tidak-hanya-orang-tua-guru-juga-perlu-paham-gizi-seimban
World Food Programme. (2021). School nutrition education material for teachers, parents and school-aged children: Package of materials. Retrieved from https://www.wfp.org/publications/school-nutrition-education-material-teachers-parent s-and-school-aged-children-package
Kemenkes. (2019, August 16). Kemenkes Tingkatkan Status Gizi Masyarakat. Kemkes.go.id. https://kemkes.go.id/id/kemenkes-tingkatkan-status-gizi-masyarakat

Leave a comment