Urban Health Harmony: Aksi Sehat untuk Kota Kita Bersama Kader Surabaya Hebat

Published by

on

Ditulis oleh Lil Yan Hidayah, Alifia Alya Wulandari, Mochammad Iqbal Hanafi, Talitha  Yamilla Cahyadi, Muhammad Charis Akmaluddin.

Surabaya, 2025 – Kesehatan global menjadi insiden global yang menjadi tantangan  masyarakat dunia. Menurut WHO, kasus DBD melonjak hingga lima juta kasus dengan  lebih dari 5000 juma kematian pada tahun 2023. Di Indonesia, kasus DBD sendiri juga  tergolong cukup tinggi. Wilayah Jawa Timur menjadi area yang rentan terkena demam  berdarah dengue sejak tahun 2018 hingga 2023. Pada tahun 2024 sendiri kasus DBD di  Jawa Timur tergolong cukup tinggi 210.644 kasus dengan 1.239 kematian akibat DBD  yang terjadi di 259 kabupaten/kota di 32 provinsi, dan mengalami perluasan, yaitu  mencapai 482 kabupaten/kota (Kemenkes, 2024). 

Upaya pemerintah dalam pencegahan penyebaran kasus DBD diwujudkan melalui  kebersihan sanitasi air rumah tangga penduduk, karena demam berdarah disebabkan  karena adanya air kotor yang tergenang dan berpotensi menjadi sarang  perkembangbiakan nyamuk. Praktik kebersihan air dan sanitasi di Indonesia menjadi  acuan dalam menghadapi permasalahan kesehatan demam berdarah dengue. Indikator  kelayakan rumah tangga juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2022,  persentasenya sebesar 91,05%, naik menjadi 91,72% di 2023. Pada 2024, proporsinya  kembali meningkat menjadi 92,64% (GodStats, 2024). 

Kesejahteraan masyarakat di indonesia juga mencakup usia lansia yang terdapat di  indonesia, dimana di indonesia sendiri jumlah lansia juga tergolong cukup banyak.  Dilihat dari segi demografi, jumlah penduduk lansia perempuan (52,28%) lebih banyak  daripada penduduk lansia laki-laki (47,72%). Namun, jumlah penduduk lansia muda  yang berumur 60-69 tahun memiliki jumlah paling besar, yaitu sekitar 63,59%.  Sebagian besar para lansia tinggal di wilayah perkotaan (BPS, 2023). Dua indikator  yang menggambarkan kesehatan lansia secara umum adalah persentase lansia yang  mengalami keluhan kesehatan dan angka kesakitan lansia. Semakin rendah angka  kesakitan, mengindikasikan derajat kesehatan penduduk wilayah tersebut yang semakin  membaik, begitu pula sebaliknya. 

Kesehatan ibu dan anak juga tergolong dalam tujuan Sustainable Development Goals,  dimana kesehatan dan anak juga penting untuk diperhatikan untuk mencapai  pertumbuhan penduduk yang lebih baik. Di provinsi Jawa Timur, angka kematian ibu  dan bayi masih tergolong cukup banyak. Tiga daerah dengan jumlah kematian ibu  tertinggi adalah Kabupaten Jember, Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Sidoarjo.  Dugaan penyebab kematian ibu terbanyak pada tahun 2024 di Provinsi Jawa Timur  adalah komplikasi non-obstetrik (43,5%), hipertensi dalam kehamilan, persalinan, dan  nifas (20,9%), serta perdarahan obstetrik (16,4%). Kota Madiun merupakan satu satunya kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur yang tidak mencatatkan kasus kematian  ibu (Dinkes Jatim, 2024). 

Pada tahun 2024, jumlah kematian bayi di Jawa Timur tercatat sebanyak 3.754 kasus.  Tiga kabupaten dengan jumlah kematian tertinggi adalah Kabupaten Malang (345  kasus), Kabupaten Jember (325 kasus), dan Kabupaten Probolinggo (240 kasus). Kasus  penolakan domisili juga masih ditemukan pada kematian bayi di tahun tersebut. Tiga 

penyebab kematian bayi terbanyak pada tahun 2024 adalah gangguan sistem  pernapasan dan kardiovaskular, berat badan lahir rendah (BBLR) dan prematuritas,  serta infeksi (Dinkes Jatim, 2024). KEGIATAN URBAN HEALTH HARMONY:AKSI SEHAT UNTUK KOTA KITA Urban Health Harmony: Aksi Sehat untuk Kota Kita merupakan inisiatif kolaboratif  antara mahasiswa Hubungan Internasional dengan Kader Surabaya Hebat (KSH).  Kegiatan utama meliputi pendampingan Posyandu Keluarga (Posga) untuk layanan  kesehatan primer seperti pemeriksaan gizi balita, antenatal ibu hamil, dan skrining  lansia serta sosialisasi dan pemantauan jentik nyamuk melalui program Jumantik di RW  10 Kelurahan Pacar Kembang, Surabaya. Dilaksanakan menjelang musim hujan  November 2025, project ini bertujuan memutus rantai penularan Demam Berdarah  Dengue (DBD) yang melonjak akibat faktor urban seperti genangan air dan sampah  menumpuk. Analisis hubungan project ini dengan Sustainable Development Goals  (SDGs) yang diacu yaitu SDG 3 (Kesehatan Baik dan Kesejahteraan), SDG 6 (Air  Bersih dan Sanitasi Layak untuk Semua), serta SDG 11 (Kota dan Komunitas  Berkelanjutan) menunjukkan kontribusi langsung terhadap pembangunan  berkelanjutan di tingkat lokal.

Gambar 1: After Movie Urban Health Harmony Collaboration with Kader Surabaya Hebat

Pertama, project ini selaras erat dengan SDG 3, karena Mahasiswa Bersama dengan  KSH melakukan program Sosialisasi 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur Ulang)  dan pemantauan jentik nyamuk di sekitar rumah warga RW 10 Kelurahan Pacar  Kembang, Surabaya bertujuan mengurangi kasus DBD. Sementara itu, pendampingan  Posga antara KSH, Tenaga Kesehatan, dan Mahasiswa mendukung deteksi dini  terhadap masalah Kesehatan yang dialami warga, mulai dari balita hingga lansia.  Kolaborasi dengan KSH memperkuat ketahanan keluarga terhadap ancaman  Kesehatan, Dimana diwujudkan dengan antusiasme warga sekitar dalam mendukung  project ini.

Kedua, keterkaitan dengan SDG 6 terlihat pada upaya pengelolaan air dan sanitasi  untuk mencegah perkembangbiakan Aedes aegypti. Genangan air akibat drainase  tersumbat, genangan air hujan di beton tiang bendera, maupun genangan air didalam  rumah menjadi fokus Jumantik, di mana KSH dan Mahasiswa secara gotong royong  membersihkan wadah air terbuka dan mempromosikan budaya lingkungan bersih  terhadap warga sekitar RW 10 Kelurahan Pacar Kembang. Output seperti pembentukan  kelompok pengawas lingkungan dan inisiatif drainase berkelanjutan diharapkan  mengurangi sarang nyamuk selama musim penghujan, mendukung target SDG 6 untuk  akses air bersih yang aman dan pengelolaan limbah rumah tangga. Ini bukan hanya  pencegahan DBD, tapi juga kontribusi jangka panjang terhadap sanitasi urban di  Surabaya, yang sering terdampak banjir musiman. 

Ketiga, project ini memperkuat SDG 11 melalui pembangunan komunitas inklusif dan  tangguh. Dengan melibatkan seluruh keluarga dari balita hingga lansia, serta kader  sebagai fasilitator, kegiatan membangun solidaritas RW melalui edukasi holistik dan  kolaborasi lintas sektor. Dampaknya mencakup peningkatan partisipasi masyarakat  hingga 30-50%, memperkaya program KSH seperti Jambore 2025 dan aplikasi Sayang  Warga. Ini mewujudkan visi kota sehat yang ramah lingkungan, dengan gotong royong  sebagai pondasi ketahanan sosial-ekonomi, serta ekspansi ke RW lain untuk  inklusivitas urban. 

Secara keseluruhan, Urban Health Harmony bukan sekadar aksi sementara, melainkan  katalisator sinergi SDGs 3, 6, dan 11. Dengan target penurunan potensi DBD dan  peningkatan kualitas layanan kesehatan, project ini memberikan dampak nyata bagi  masyarakat Surabaya, sekaligus melatih mahasiswa dalam isu global lokal. 

Gambar 2. Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk

Gambar 3. Kegiatan Posyandu Keluarga 

Gambar 4. Kegiatan Senam Bersama Warga 

Saran Kebijakan  

Pemerintah sebenarnya sudah punya beberapa program pengendalian DBD, mulai dari  PSN 3M Plus, Satu Rumah Satu Jumantik, sampai Rencana Strategis Dengue 2021– 2025 yang menekankan pengendalian vektor berkelanjutan dan pelibatan masyarakat  (WHO Indonesia, 2021 & Kemenkes RI, 2023). Namun, masih terdapat tantangan yang  kami rasakan seperti program sangat bergantung pada kesadaran warga, sementara  pendampingannya belum konsisten, wilayah kota yang padat sering kesulitan menjaga  sanitasi dan air bersih, upaya pencegahan kalah cepat dari respons darurat seperti  fogging, dan sistem pemantauan jentik belum benar-benar terintegrasi dan mudah  diakses. Oleh karena itu, saran kebijakan yang dapat dilakukan yaitu membangin sistem  pemantauan jentik yang lebih modern dan mudah diakes, kemudian memperluas  penggunaan teknologi seperti Wolbachia. 

Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mendorong penguatan Posyandu Keluarga  melalui kebijakan Revitalisasi Posyandu dan integrasi layanan kesehatan dasar—yang  mencakup kesehatan ibu-anak, gizi, lansia, hingga edukasi keluarga (Kemenkes RI,  2021). Pemerintah daerah (provinsi/pemkot) juga menjalankan kebijakan integrasi  lintas sektor seperti PKK, kader kesehatan, dan puskesmas melalui Permendagri No.  18/2018 tentang lembaga kemasyarakatan desa/kelurahan. Namun, pada saat terjun  langsung ke lapangan masih terdapat kendala dalam proses pelaksanaan Posyandu  seperti, layanan Posyandu Keluarga sering berjalan tidak merata, tergantung semangat  kader dan dukungan anggaran, sistem pencatatan masih banyak yang manual, sehingga  data perkembangan keluarga tidak selalu akurat atau terbaru. Sehingga kami  merekomendasikan kebijakan yang dapat dilakukan seperti, digitalisasi layanan dan 

pencatatan Posyandu Keluarga dan dukungan operasional yang jelas dan tidak  bergantung pada swadaya kader. 

Dalam hal pengembangan kesejahteraan lansia, saat ini pemerintah sebenarnya sudah  punya beberapa program untuk mendukung kesehatan lansia, seperti Program Lansia  Tangguh BKKBN dan layanan kesehatan lansia melalui Kemenkes. Program ini  mendorong pemeriksaan berkala, kegiatan fisik, dan pendampingan komunitas  (BKKBN, 2024). Namun, implementasinya masih belum merata. Banyak daerah belum  memiliki kelompok senam lansia yang rutin, fasilitas minim, serta kader belum  sepenuhnya mendapat pelatihan yang sesuai. Saran kebijakan baru dapat dilakukan  dengan menjadikan senam lansia & pra-lansia sebagai program wajib tiap kelurahan,  mengintegrasikan kegiatan senam dengan layanan Posyandu Lansia, dan menyediakan anggaran khusus untuk pemberdayaan kader & peralatan sederhana.  

DAFTAR PUSTAKA 

BPS. (2023). STATISTIK PENDUDUK LANJUT USIA 2023

BPS. (2024). PROFIL KESEHATAN IBU DAN ANAK 2024 (Vol. 10). bps.go.id.  https://web 

api.bps.go.id/download.php?f=FysMp9i5RHXM3GyuQ7uSk2E0Mmw1YlJtemZS YzhNQm0wS0o5RE9jd1RxUEQ0NVJFUGFSVFVsL1ZTWG0xTkdGcGZrRXN HUkRROVpKS3h2Wlk0NXEvbWNZT1UyVm1yK2ZVVUNoS3NvZ3BwMVB yUU45alNoRUVHQWRvaHo4cFVsZmFuWTJlVDc1UC9obXIxc0dTUVlpc0U2 czEyMVJqbkJTcW9ISlFoVWxpUi9UM1hCNHd5WklhYm5Gem5uK1ZBQVZsb 

2hPcms0eG54T2wza1NCWi91VTZ6R3hYVVpzSlZINE9FWHBJNG5XbHV5S XQrT2ZoS0pCUGphK1VRNkdHZXBQbUlJdHZ5REdaTWQrOXZHR2M=&_gl =1*mgsxt2*_ga*OTY4NDI2NjcuMTc2NDMwNzgwNQ..*_ga_XXTTVXWHD B*czE3NjQzNDMwNTYkbzYkZzAkdDE3NjQzNDMwNTYkajYwJGwwJGgw 

Dinas Kesehatan Jatim. (2024). PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR 2024https://dinkes.jatimprov.go.id/.  

https://dinkes.jatimprov.go.id/userfile/dokumen/PROFIL%20KESEHATAN%20P ROVINSI%20JAWA%20TIMUR%20TAHUN%202024.pdf 

GoodStats. (2023). 7 Provinsi dengan Produksi Air Bersih Terbanyak

GoodStats. (2024). Sumber Air Minum Bersih di Indonesia Terus Meningkat.  https://data.goodstats.id/statistic/sumber-air-minum-bersih-di-indonesia-terus meningkat-MkoR4 

UN SDGs. (2025). Ensure healthy lives and promote well-being for all at all ages.  https://sdgs.un.org/goals/goal3 

WHO. (2023). Dengue – Global situation. https://www.who.int/emergencies/disease outbreak-news/item/2023-DON498 

Widiyana, E. (2025). 231 Warga Surabaya Terserang DBD Sepanjang 2024, Meningkat  20 Persen . Detik.Com. https://www.detik.com/jatim/berita/d-7724790/231- warga-surabaya-terserang-dbd-sepanjang-2024-meningkat-20-persen

BOOKLET  

https://drive.google.com/file/d/1y3H_ZPbwp0o7oLVw2JEgeBiimfyGjQhL/view?usp=dri ve_link

Leave a comment