Ditulis oleh Evania Agatha Naomi, Winanda Kartika Christy, Maria Anastasia Putri Gabriel, Aldila Primanti Rahmi, Hana Kaila Cahyani
Surabaya, 14 November 2025 – Masalah limbah pangan dan pengelolaan sampah organik menjadi tantangan serius dalam upaya mewujudkan konsumsi dan produksi yang berkelanjutan di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Surabaya. Hasil kajian Badan Pangan Nasional (2022), tahun 2021 menunjukkan bahwa limbah dan susut pangan, juga dikenal sebagai Food Loss and Waste (FLW), menghasilkan 23-48 juta ton sampah makanan per tahun di Indonesia, yang setara dengan 115–184 kilogram per orang per tahun. Diperkirakan sampah makanan ini dapat memberi makan 61-125 juta orang Indonesia yang membutuhkan, atau 29-47% dari populasi (Badan Pangan Nasional, 2022). Sekitar 1.600 ton sampah per hari masuk ke Tempat Pembuangan Akhir Benowo (TPA) Benowo. Sampah organik, terutama sisa makanan dan sayuran, menyumbang 60 persen dari volume sampah tersebut. Sampah anorganik menyumbang sisanya (Pemerintah Kota Surabaya, 2023).
Sehubungan dengan data dan kenyataan tersebut, kami selaku kelompok mahasiswa Hubungan Internasional UPN “Veteran” Jawa Timur menginisiasi sebuah proyek bernama “Greenzyme Movement: Eco-Enzyme for Earth”. Proyek ini diselenggarakan di SMPN 62 Surabaya, pada tanggal 14 November 2025. Jumlah keseluruhan peserta yang turut berpartisipasi dalam kegiatan adalah 52 orang, terdiri dari siswa-siswi kelas 7 dan 8. Pelaksanaan kegiatan ini berkolaborasi dengan dua pihak mitra kerja sama sekaligus sponsor, yakni Ketua RW 009 Rungkut Kidul, Bapak Surahman, dan salah seorang warganya yang tergabung sebagai relawan dalam sebuah komunitas bernama Eco Enzyme Nusantara, Ibu G.A. Komang Wiratini.
Selama kegiatan berlangsung, Ibu Komang menjelaskan mengenai apa itu eco-enzyme, cara pembuatannya, hingga kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini memberi edukasi sekaligus pengalaman praktik kepada siswa-siswi sekolah menengah mengenai pemanfaatan limbah organik untuk diolah kembali menjadi larutan serbaguna. Ketika siswa-siswi memiliki pengetahuan untuk mengolah limbah organik, harapannya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah-limbah tersebut dapat dicegah. Hal ini juga menjadi ajakan bagi siswa-siswi untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan, tidak hanya bertindak pasif terhadap pencemaran lingkungan yang sudah terjadi. Pelaksanaan kegiatan Greenzyme Movement: Eco Enzyme for Earth ini dapat membantu tercapainya Sustainable Development Goals 11 dan 12; Sustainable Cities and Communities dan Responsible Consumption and Production.
Saran Kebijakan
Kegiatan Greenzyme Movement: Eco Enzyme for Earth menunjukkan bahwa pembuatan eco-enzyme mampu mendukung pengurangan sampah organik di sekolah, namun masih terkendala minimnya fasilitas pemilihan dan belum adanya sistem pengumpulan bahan organik yang konsisten. Karena itu diperlukan penguatan kebijakan agar program ini dapat berlanjut dan berkontribusi pada target kota serta SDGs. Pemerintah daerah perlu menyusun panduan “Sekolah Ramah Lingkungan” yang memasukkan eco-enzyme sebagai praktik pengelolaan sampah organik. Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pendidikan dapat bekerja sama menyediakan fasilitas dasar seperti wadah pilah dan tempat fermentasi, serta pelatihan rutin bagi warga sekolah. Program ini juga perlu diintegrasikan dengan bank sampah organik atau TPS 3R agar aliran bahan organik lebih teratur dan mampu menurunkan beban TPA. Pemerintah juga dapat menambahkan modul “Eco-Enzyme Sekolah” pada sistem data lingkungan sebagai indikator kontribusi sekolah terhadap SDG 11 dan 12.
Referensi
Badan Pangan Nasional. (2022, September 8). GRASP 2030: NFA Ajak Semua Pihak Kolaborasi Tekan Food Loss and Waste (FLW). Diambil kembali dari Badan Pangan Nasional: https://badanpangan.go.id/blog/post/grasp-2030-nfa-ajak-semua-pihak-kolaborasi-tekan-food-loss-and-waste-flwPemerintah Kota
Surabaya. (2023, Juli 6). Volume Sampah Harian di Surabaya 60 Persen Didominasi Organik. Diambil kembali dari Pemerintah Kota Surabaya: https://www.surabaya.go.id/id/berita/74939/volume-sampah-harian-di-surabaya-60-persen-didominasi-organik

Leave a comment