Ditulis oleh Suryo Bimantoro, Zaidan Ahmad Zaki Munawar, George Ido Halomoan Sirait, Raihan Fadhila Septa, Joseph Adrianus Tambunan, Caesar Maleakhi Parulian Simarmata
SDG nomor 10, atau yang disebut “Reduced Inequalities,” berfokus dalam menuntaskan kesenjangan sosial di seluruh lapisan masyarakat. Salah satu isu kesenjangan sosial tersebut adalah diskriminasi, yaitu perlakuan represif yang dilakukan untuk membatasi, mendegradasi, atau mengecualikan seorang individu karena perbedaan status atau karakteristik yang dipunyai oleh individu tersebut. Dalam Indonesia sendiri, terdapat berbagai tipe kasus diskriminasi yang berbeda, seperti diskriminasi berbasis gender, dimana dalam tahun 2025, kasus kekerasan gender berjumlah 25.194 di keseluruhan Indonesia. Dalam data tersebut, provinsi Jawa Timur telah terbukti mendapatkan posisi kedua dalam kasus kekerasan gender yang paling banyak dibandingkan provinsi-provinsi lain. Selain diskriminasi gender, terdapat diskriminasi ekonomi dimana kesetaraan penyerahan upah pekerjaan bagi kaum perempuan lebih rendah dibandingkan (sekitar 19.9%) kaum laki-laki, dan pengidap disabilitas juga menghadapi adanya ketidak perolehan pekerjaan dalam Jawa (sekitar 1.2% dibawah kuota UUD). Diskriminasi kategori terakhir yang dianalisis merupakan diskriminasi agama, ini dapat ditunjukkan dengan indeks toleransi kota Surabaya yang berada di peringkat ke-6 dari seluruh provinsi Jawa Timur.
Untuk mencoba menyelidiki dan menyebarkan wawasan mengenai isu-isu diskriminasi tersebut, tim peneliti kami mengkonstruksikan suatu proyek seminar berbasis SDG untuk melakukan analisis mengenai kasus-kasus diskriminasi yang berada di Indonesia, terutama Kota Surabaya, dan sekaligus implementasi resolusi terhadap kasus-kasus tersebut melalui paparan oleh narasumber organisasi Global Youth Peace Indonesia (GPYI) serta opini dan saran yang diberikan oleh para peserta mahasiswa dalam seminar tersebut. Proyek seminar kami diselenggarakan di dalam ruang Labirin bangunan FISIP 1 Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, dimana seminar tersebut mengajak berbagai mahasiswa dari kampus UPNVJT maupun kampus-kampus lain untuk bersedia dalam mengikuti rangakaian acara seminar dan sekaligus mempelajari materi mengenai diskriminasi yang sudah disediakan oleh pemateri dari organisasi Global Youth Peace Indonesia (GPYI), untuk lebih spesifiknya, cabang GPYI yang berada di Kota Surabaya. Selain pemaparan materi, para audiens juga diberikan kesempatan untuk menanyakan berbagai pertanyaan ataupun menjelaskan pengalaman mereka untuk mendapatkan jawaban atau saran dari pemateri. Terakhir, para audiens diberikan beberapa waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dibagi oleh tim peneliti dalam sesi implementasi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut berwujud dalam kasus-kasus diskriminasi fiktif dengan kategori-kategori diskriminasi berbeda seperti diskriminasi ekonomi. Akhir acara seminar kami berlangsung dengan sesi dokumentasi dan pemberian sertifikat bagi para pemateri GPYI.
Proyek seminar kami merupakan suatu proyek sosial yang ditujukan bagi mahasiswa-mahasiswa Surabaya untuk menjelajahi topik diskriminasi di sekitar lingkungan
mereka dan sekaligus memberi mereka suatu oportunitas untuk menceritakan atau menjelaskan opini atau pengalaman mereka dalam menghadapi diskriminasi.

Leave a comment