Fenomena Tren #KaburAjaDulu dan Realita Ancaman Brain Drain di Indonesia

Published by

on

Penulis: Yasbi Hammami

Editor: Putri Nauli Sinaga

Tagar #KaburAjaDulu akhir-akhir ini menjadi fenomena sosial yang ramai dibicarakan di Indonesia terutama di kalangan muda saat ini. Tagar #KaburAjaDulu muncul pertama kali lewat platform media sosial X dan kemudian menyebar luas ke komunitas warganet Indonesia pada awal tahun 2025. Sejak saat itu, tagar tersebut berkembang menjadi salah satu fenomena nasional yang populer. Tagar #KaburAjaDulu kemudian dikaitkan dengan gerakan ekspresi di beberapa platform media social yang mewakili rasa kekecewaan terhadap berbagai masalah sosial, ekonomi, dan ketidakstabilan politik yang terjadi di Indonesia. Sehingga, secara umum #KaburAjaDulu dimaknai masyarakat sebagai salah satu seruan ekspresif dari keinginan untuk mencari kehidupan ataupun pekerjaan yang lebih layak di luar negeri.

Meski pada awalnya hanya merupakan sebuah trend yang bermula di media sosial, #KaburAjaDulu memiliki pemaknaan sosial yang jauh lebih dalam. Lewat tagar tersebut, para generasi muda Indonesia mengekspresikan keresahan akan masa depan kehidupan mereka di tanah air. Banyak dari mereka sudah merasakan beratnya realita tantangan mencari pekerjaan layak yang sesuai dengan kualifikasi serta harapan mereka. Tingginya angka pengangguran saat ini di kalangan para lulusan baru, serta gaji yang tidak sesuai dengan besarnya tuntutan pekerjaan ataupun tidak sebanding dengan angka biaya hidup yang melambung saat ini juga menjadi faktor pendorong naiknya tagar #KaburAjaDulu ini di kalangan masyarakat.  Pada satu sisi lainnya, tagar #KaburAjaDulu juga menjerat dengan ancaman brain drain yang semakin terlihat di Indonesia (Husen, 2025). 

Fenomena brain drain saat ini semakin sering dikaitkan dengan tagar #KaburAjaDulu sebagai cerminan tingginya keinginan sebagian talenta muda Indonesia untuk mencari taraf pendidikan serta kualitas hidup yang dianggap lebih baik di luar negeri, terutama dalam urusan ketenagakerjaan. Meskipun mobilitas terkait ketenagakerjaan global saat ini merupakan suatu hal yang lumrah, namun keinginan generasi muda Indonesia untuk mencari penghidupan layak di luar negeri harus menjadi suatu perhatian khusus bagi pemerintah Indonesia.  Tingginya minat mobilitas ke luar negeri tersebut menimbulkan resiko berkurangnya sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan untuk mendorong inovasi, daya saing, serta pembangunan nasional. Indonesia memiliki resiko tinggi mengalami suatu fase krisis sumber daya manusia kedepannya yang merupakan puncak dari fenomena brain drain.

Fenomena tagar #KaburAjaDulu pada dasarnya mewakili sikap kritis masyarakat muda yang menganggap negara kurang hadir dalam memecahkan masalah sosial di Indonesia saat ini(Nathania, 2025). Jika dilihat dari kacamata sosial, tagar #KaburAjaDulu memiliki dua sisi peluang yang sangat berbeda. Pada satu sisi #KaburAjaDulu bisa menjadi peluang terjadinya brain gain jika para diaspora muda yang bekerja atau belajar di luar negeri kembali ke tanah air untuk membagikan pengalaman serta ilmu mereka. Namun hal tersebut masih terbilang kontras dengan realita pahit bahwa sistem riset serta keilmuan yang dimiliki Indonesia masih memerlukan pembenahan signifikan dan meniru pada penerapan sistem di negara maju lainnya.  

Namun, di satu sisi #KaburAjaDulu bisa menjadi sebuah ancaman brain drain jika para diaspora muda tersebut tidak berkeinginan kembali ke tanah air. Menurut Hempri, hal tersebut diakibatkan masih buruknya ekosistem inovasi dan riset di Indonesia, baik dari segi insentif, dukungan kebijakan, hak cipta dan lain-lain. Faktor-faktor tersebut pada akhirnya dapat menghambat akselerasi pembangunan nasional serta menciptakan ketimpangan ekonomi bagi Indonesia di kancah global. Gejala awal datangnya ancaman brain drain tersebut sudah dapat dirasakan melalui sisi tren #KaburAjaDulu yang semakin mendapatkan tempat di generasi muda Indonesia. Untuk mencegah terjadinya brain drain secara nyata maka pemerintah Indonesia memerlukan pembenahan pada rangakain sistem pendidikan, ekonomi, serta terkhusus pada ketanagakerjaan. Selain itu, perlu adanya peningkatan kesadaran akan tanggung jawab moral bagi generasi muda untuk bisa berkontribusi bagi bangsa ini (Nathania, 2025).

Referensi

BBC Indonesia. (2025, Februari 12). ‘Saya tidak mau mati sebagai orang Indonesia’ – Cerita tiga anak muda Indonesia yang tinggal dan bekerja di Korsel, AS dan Thailand. Diambil kembali dari BBC : https://www.bbc.com/indonesia/articles/cvg8y3r18xwo

Husen, M. (2025, April 1). Dibalik Fenomena Kabur Aja Dulu Trend atau Tanda Krisis? Diambil kembali dari Geotimes: https://geotimes.id/opini/dibalik-fenomena-kabur-aja-dulu-trend-atau-tanda-krisis/

Nathania, K. D. (2025, Februari 20). Ramai Tagar Kabur Aja Dulu, Pakar UGM: Bentuk Sikap Kritis dan Sindiran Anak Muda atas Situasi di Tanah Air. Diambil kembali dari UGM: https://ugm.ac.id/id/berita/ramai-tagar-kabur-aja-dulu-pakar-ugm-bentuk-sikap-kritis-dan-sindiran-anak-muda-atas-situasi-di-tanah-air/

Leave a comment